OlahragaPekanbaru

Begini Sejarah Panjang PSPS Pekanbaru

×

Begini Sejarah Panjang PSPS Pekanbaru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.(ist)
Ilustrasi.(ist)

PSPS Pekanbaru bukan sekadar klub sepak bola. Berdiri sejak 1955, PSPS adalah simbol perjuangan dan kebanggaan masyarakat Pekanbaru, bahkan Provinsi Riau.

Julukan Askar Bertuah melekat kuat sebagai representasi semangat pantang menyerah yang terus hidup dari generasi ke generasi.

  • Awal Perjalanan

Dikutip dari wikipedia.org, PSPS merupakan singkatan dari Persatuan Sepak Bola Pekanbaru dan Sekitarnya.

Klub ini lahir dari semangat lima klub anggota PS IPP (Ikatan Pemuda Pekanbaru), PS Pelayaran, PS Caltex, PS PU, dan PS Elektra (PLN).

Di bawah kepemimpinan Yubahar, yang juga mantan Kepala PLN Pekanbaru, PSPS memulai langkah sebagai perserikatan kecil dengan mimpi besar.

Meski dengan segala keterbatasan, sejak awal PSPS sudah mampu sejajar dengan perserikatan kuat di Sumatra.

Klub ini bahkan melahirkan pemain nasional seperti Jayusman, Thamrin Manaf, dan Hamid.

Tahun 1961, PSPS turut ambil bagian dalam PON Bandung, menandai kiprah awal di panggung nasional.

Nama Hamid menjadi legenda. Kiper yang di idolakan masyarakat Pekanbaru itu memperkuat Timnas Indonesia di Pyongyang, Korea Utara pada 1963 di bawah asuhan EA Mangindaan.

Di era ketika pendidikan dan pekerjaan sering berbenturan dengan karier sepak bola, dedikasi para pemain PSPS menjadi kisah heroik tersendiri.

  • Stadion dan Semangat Kebangkitan
Baca Juga  PSPS Pekanbaru Akhirnya Lolos Lisensi Profesional

Besarnya gairah sepak bola di Pekanbaru mendorong Gubernur Riau saat itu, Kaharuddin Nasution, membangun Stadion Dwikora pada 1963.

Meski berbahan kayu, stadion ini menjadi pusat pembinaan dan kebanggaan olahraga pertama di kota tersebut.

Namun cobaan datang pada 1972, ketika Stadion Dwikora terbakar hebat. Stadion itu sempat terbengkalai hingga akhirnya dibangun kembali oleh PT Caltex Pacific Indonesia dan diresmikan Gubernur Arifin Achmad pada 13 Maret 1977.

Pada 8 Maret 1980, stadion tersebut berganti nama menjadi Stadion Hang Tuah, diresmikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Abdul Gafur.

Kebangkitan PSPS pun kembali terasa. Dari stadion inilah lahir pemain-pemain berbakat seperti Sugiarto, Mahmud, Nantan Ibrahim, Nazwar Nurdin, Majid, Margono, hingga Ujang Jufri—nama-nama yang masih dikenang dalam sejarah sepak bola Riau.

  • Hampir Menembus Elite Nasional

Pada 1984, PSPS hampir mencetak sejarah besar. Saat kompetisi nasional masih terbagi antara Perserikatan dan Galatama, PSPS berhasil mewakili Sumatra Bagian Utara dan melaju ke babak playoff Divisi Utama di Cimahi, Jawa Barat. Peluang promosi terbuka lebar.

Baca Juga  Sah, Alfin Tuasalamony Resmi Bergabung Dengan PSPS Pekanbaru

Skuad kala itu diperkuat pemain tangguh seperti Ricky Darman, Dino Kardinal, Edu Mukhni, hingga kiper Sutanto Ongso.

Dukungan Direktur Utama BPD Riau, Syafii Yusuf, yang juga menjadi manajer tim, memperkuat fondasi profesionalisme PSPS.

Meski akhirnya gagal lolos karena faktor kelelahan dan jadwal padat, perjuangan itu menjadi tonggak penting. PSPS membuktikan diri sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan di pentas nasional.

  • Identitas yang Tak Pernah Padam

Perjalanan panjang selama puluhan tahun akhirnya membawa PSPS menembus kasta tertinggi sepak bola Indonesia pada era berikutnya. Klub ini menjadi representasi semangat masyarakat Pekanbaru: tangguh, ulet, dan tidak mudah menyerah.

Kini, dengan dukungan suporter setia seperti Asykar Theking dan Curva Nord 1955, PSPS terus menjaga api perjuangan. Bermarkas di Stadion Kaharuddin Nasution dan berlaga di Liga 2 musim 2025, semangat “Bertuah!” tetap menggema.

Lebih dari sekadar klub, PSPS Pekanbaru adalah warisan sejarah. Ia adalah cerita tentang mimpi, perjuangan, dan identitas sebuah daerah yang terus hidup di setiap sorakan suporter dan setiap sentuhan bola di lapangan hijau.