Utama

Dari Padangpanjang untuk Dunia, Swarnadwipa 2026 Sukses Hadirkan 140 Karya Fotografi

×

Dari Padangpanjang untuk Dunia, Swarnadwipa 2026 Sukses Hadirkan 140 Karya Fotografi

Sebarkan artikel ini
Dari Padangpanjang untuk Dunia, Swarnadwipa 2026 Sukses Hadirkan 140 Karya Fotografi
Dari Padangpanjang untuk Dunia, Swarnadwipa 2026 Sukses Hadirkan 140 Karya Fotografi

MATARIAU.COM – Kota Padangpanjang, Sumatera Barat, kembali menjadi titik temu para fotografer, seniman, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat melalui Swarnadwipa International Photo Festival 2026.

Festival fotografi internasional yang berlangsung di Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang pada 26 – 28 Agustus 2026 ini mengangkat tema Threads of Identity.

Rangkaian festival dilanjutkan dengan kegiatan photo hunting pada 29 Agustus 2026.

Memasuki penyelenggaraan keduanya, Swarnadwipa tidak hanya menghadirkan karya untuk dinikmati secara visual.

Festival ini membawa gagasan bahwa fotografi dapat menjadi medium untuk membaca identitas, kebudayaan, ingatan, perubahan sosial, hingga hubungan manusia dengan ruang hidupnya.

Sekitar 140 karya fotografi dari berbagai genre dan pendekatan dipamerkan dalam festival tahun ini.

Setiap karya merepresentasikan pengalaman, gagasan, perspektif, serta identitas fotografernya.

Inisiator Swarnadwipa International Photo Festival sekaligus Ketua Program Studi Fotografi ISI Padangpanjang, Benny Kurniadi, S.Sn., M.Sn., mengatakan fotografi memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan gambar.

“Swarnadwipa kami gagas sebagai ruang pertemuan. Bukan hanya pertemuan antara fotografer dan karya, tetapi juga pertemuan antara gagasan, kebudayaan, generasi, dan perspektif yang berbeda,” ujar Benny.

Menurutnya, fotografi dapat menjadi bahasa yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk saling mengenal dan memahami.

  • Dari Visual Identity ke Threads of Identity

Swarnadwipa pertama kali digelar pada 2024 dengan tema Visual Identity. Edisi perdana tersebut mempertemukan fotografer dari berbagai negara sekaligus membangun fondasi festival sebagai ruang pameran, pendidikan, diskusi, dan apresiasi fotografi dalam konteks sosial serta budaya.

Memasuki 2026, Swarnadwipa dikembangkan menjadi festival biennale yang diselenggarakan setiap dua tahun.

Format tersebut dirancang agar gagasan, jejaring, arsip, dan wacana fotografi yang dibangun tidak berhenti setelah festival berakhir.

“Kami ingin Swarnadwipa memiliki kehidupan yang lebih panjang daripada tiga atau empat hari penyelenggaraan. Karya, gagasan, diskusi, dan jejaring yang lahir di dalam festival harus terus bergerak setelah festival berakhir. Itulah alasan kami memilih format biennale,” kata Benny.

Perubahan format tersebut sekaligus menandai ambisi Swarnadwipa untuk berkembang dari sekadar agenda fotografi menjadi platform kebudayaan yang berkelanjutan.

  • 140 Karya, Beragam Cara Membaca Identitas

Sekitar 140 karya menjadi salah satu fokus utama Swarnadwipa 2026.

Fotografi dokumenter, konseptual, eksperimental, hingga berbagai pendekatan lainnya hadir dalam satu ruang pameran. Keragaman tersebut menunjukkan banyaknya cara untuk melihat dan memahami realitas.

Dalam kerangka Threads of Identity, karya tidak hanya dilihat berdasarkan genre. Setiap foto diposisikan sebagai bagian dari cerita yang saling terhubung.

Sebagian karya berbicara tentang keluarga dan tradisi. Karya lainnya mengangkat lingkungan, pekerjaan, migrasi, memori, hingga perubahan sosial.

Ketika karya-karya tersebut dipertemukan, pengunjung dapat melihat hubungan antara pengalaman personal dengan persoalan sosial yang lebih luas.

Baca Juga  Modus Botol Shampo, Penyelundupan Sabu ke Rutan Sialang Bungkuk Digagalkan

Karena itu, pameran tidak hanya mengajak publik melihat foto, tetapi juga membaca, mempertanyakan, dan merefleksikan makna di balik setiap visual.

  • Padangpanjang Terhubung dengan Fotografi Dunia

Dimensi internasional menjadi salah satu kekuatan Swarnadwipa.

Pada penyelenggaraan 2024, festival ini telah menghadirkan fotografer dari berbagai negara, di antaranya India, Turki, Bangladesh, Iran, Slovenia, Vietnam, Jerman, Sri Lanka, Italia, Oman, Yunani, Myanmar, Malaysia, Afrika Selatan, Republik Ceko, Madagaskar, dan Maroko.

Jejaring internasional tersebut kembali diperkuat pada edisi 2026 melalui keterlibatan kurator dan praktisi fotografi dari luar negeri.

Di antaranya Sanjoy Bhattacharya dari Bengal Photography Institute, Kolkata, India, serta Ali Al Ghafri, fotografer dan akademisi dari Oman.

Kehadiran mereka diharapkan memperluas perspektif kuratorial sekaligus membuka pertukaran pengetahuan antara praktik fotografi Indonesia dan komunitas fotografi global.

Benny menegaskan, internasionalisasi festival tidak semata-mata diukur dari banyaknya tokoh asing yang terlibat.

“Yang lebih penting adalah pertukaran. Apa yang dapat kita pelajari dari mereka, dan apa yang dapat kita bawa dari Indonesia untuk dibicarakan di tingkat global,” ujarnya.

Dengan demikian, Padangpanjang ingin ditempatkan bukan sebagai wilayah yang berada di luar percakapan fotografi dunia, melainkan sebagai salah satu ruang berlangsungnya percakapan tersebut.

  • Festival Tak Berhenti di Ruang Pameran

Swarnadwipa 2026 juga menghadirkan berbagai program pendukung, mulai dari seminar fotografi, workshop, diskusi publik, on-the-spot photo competition, curatorial engagement, hingga program partisipasi masyarakat.

Dalam on-the-spot photo competition, peserta diajak merespons langsung ruang, masyarakat, budaya, dan kehidupan sosial di sekitar lokasi festival.

Karya yang dihasilkan tidak hanya menjadi bagian dari kompetisi, tetapi juga diharapkan memperkaya arsip visual tentang Padangpanjang dan lingkungan budaya Sumatera Barat.

Program edukasi dan partisipasi publik turut dikembangkan untuk memperluas literasi visual masyarakat sekaligus mempertemukan publik dengan fotografer, karya, dan kurator.

“Festival fotografi harus bisa diakses dan dirasakan oleh publik. Kami tidak ingin hanya membuat pameran untuk komunitas fotografi,” kata Benny.

Ia berharap mahasiswa, masyarakat, generasi muda, akademisi, maupun siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap dunia visual dapat datang, berdiskusi, dan mendapatkan pengalaman baru.

  • Don Hasman Raih Lifetime Achievement Award

Salah satu momen penting dalam Swarnadwipa 2026 adalah penganugerahan Swarnadwipa Award – Lifetime Achievement in Photography 2026 kepada Don Hasman.

Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas perjalanan panjang dan kontribusinya terhadap perkembangan fotografi Indonesia.

Don Hasman dikenal sebagai fotografer, pengembara, sekaligus pendokumentasi kehidupan, alam, dan kebudayaan Indonesia.

Pemberian penghargaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Swarnadwipa menjaga kesinambungan antargenerasi dalam dunia fotografi.

Pada penyelenggaraan 2024, penghargaan Lifetime Achievement diberikan kepada Risman Marah.

Baca Juga  Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Riau Memilukan, Begini Pesan Kabid Humas Polda Riau

“Kami ingin generasi muda memahami bahwa fotografi Indonesia memiliki sejarah dan memiliki orang-orang yang telah membangun fondasinya. Don Hasman adalah salah satu figur penting yang perjalanan hidup dan karyanya dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi berikutnya,” ujar Benny.

  • Fotografi sebagai Diplomasi Budaya

Di tengah dunia yang semakin terhubung melalui teknologi visual, Swarnadwipa memandang fotografi sebagai salah satu bahasa budaya yang mampu melampaui batas geografis.

Tema Threads of Identity tidak hanya berbicara tentang estetika fotografi, tetapi juga bagaimana manusia membentuk identitas di tengah keberagaman, globalisasi, dan perubahan sosial.

Dalam konteks Indonesia, tema tersebut berkaitan dengan keragaman etnis, tradisi, sejarah, dan kebudayaan. Sementara dalam konteks global, identitas menjadi persoalan universal yang dihadapi masyarakat di berbagai belahan dunia.

Karena itu, Swarnadwipa menempatkan fotografi sebagai bagian dari diplomasi budaya, yakni bahasa visual yang dapat mempertemukan masyarakat dari latar belakang berbeda.

“Ketika kita berbicara tentang fotografi, sebenarnya kita sedang berbicara tentang manusia. Perbedaan budaya justru membuat percakapan menjadi menarik. Melalui fotografi, kita dapat menemukan persamaan di balik perbedaan tersebut,” kata Benny.

  • Membangun Ekosistem Fotografi dari Sumatera Barat

Bagi Program Studi Fotografi ISI Padangpanjang, penyelenggaraan Swarnadwipa juga menjadi bagian dari tanggung jawab akademik dan kebudayaan dalam membangun ekosistem fotografi Indonesia.

Festival ini mempertemukan dunia pendidikan dengan praktik profesional, komunitas dengan institusi, fotografer muda dengan fotografer senior, serta perspektif lokal dengan perspektif global.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat posisi fotografi sebagai bagian dari perkembangan seni, pendidikan, kebudayaan, dan industri kreatif.

Swarnadwipa diarahkan menjadi platform yang mendukung literasi visual, pelestarian budaya, pendidikan fotografi, diplomasi budaya, sekaligus perkembangan ekosistem fotografi nasional dalam konteks internasional.

  • Dari Padangpanjang untuk Dunia

Benny melihat perjalanan Swarnadwipa sebagai proses jangka panjang.

Festival ini tidak dibangun semata-mata untuk mengejar jumlah peserta atau kemeriahan acara, tetapi untuk menciptakan kesinambungan pengetahuan, karya, jejaring, dan percakapan.

“Kami ingin suatu hari nanti ketika orang berbicara tentang fotografi di Indonesia, mereka tidak hanya mengenal Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Bali. Mereka juga mengenal Padangpanjang sebagai salah satu tempat di mana fotografi, kebudayaan, pendidikan, dan percakapan internasional bertemu,” tuturnya.

Dari kota di dataran tinggi Sumatera Barat tersebut, Swarnadwipa membawa gagasan bahwa setiap manusia memiliki cerita, setiap kebudayaan menyimpan ingatan, dan setiap gambar memiliki kemampuan untuk menghubungkan keduanya.

Threads of Identity menjadi benang yang mengikat individu dengan komunitas, masa lalu dengan masa depan, serta lokal dengan global.

Dari Padangpanjang, benang-benang identitas itu dirajut menjadi percakapan visual yang diharapkan terus bergerak dan menjangkau dunia.