UtamaPekanbaru

Sopir Ekspedisi Jadi Otak Pembunuhan Rekannya, Mayat Korban Dilakban dalam Truk

×

Sopir Ekspedisi Jadi Otak Pembunuhan Rekannya, Mayat Korban Dilakban dalam Truk

Sebarkan artikel ini
Screenshot

PEKANBARU – Misteri kematian sopir truk ekspedisi asal Jakarta berinisial HS yang ditemukan tewas mengenaskan di dalam mobil boks di Jalan SM Amin, Kecamatan Payung Sekaki, akhirnya terungkap. Setelah hampir tiga pekan penyelidikan, polisi membongkar dugaan pembunuhan berencana yang dilakukan komplotan pelaku demi menguasai muatan minyak goreng dalam truk.

Tiga pelaku berhasil ditangkap, dua di antaranya terpaksa ditembak polisi karena diduga melawan saat proses penangkapan.

Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Muharman Arta mengungkapkan, kasus tersebut bermula dari penemuan jasad korban pada 3 Mei 2026. Saat ditemukan, korban berada dalam kondisi tidak wajar dengan tubuh terikat dan wajah hingga kepala dililit lakban.

“Setelah penemuan jenazah, kami langsung melakukan olah TKP dan melibatkan tim laboratorium forensik untuk mengumpulkan petunjuk,” ujar Muharman saat konferensi pers, Minggu (24/5/2026).

Hasil penyelidikan polisi kemudian mengarah kepada empat orang pelaku. Tiga tersangka berhasil ditangkap pada 21–22 Mei 2026 di lokasi berbeda, yakni FG dan ZN di Sumatera Utara serta AS di wilayah Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau. Sementara satu pelaku lain berinisial AN masih dalam pengejaran dan telah masuk daftar pencarian orang (DPO).

Baca Juga  Mak Gadih Segera Disidang atas Kasus Pencucian Uang, Aset Rp5,4 Miliar Disita Polisi

Dari pengungkapan polisi, FG diduga menjadi otak pembunuhan. Ia diketahui merupakan rekan kerja korban yang sama-sama berprofesi sebagai sopir truk ekspedisi.

Kasus ini berawal ketika truk ekspedisi yang dikemudikan korban berangkat dari Medan menuju Lampung pada 30 April 2026. Dalam perjalanan, FG diduga mengajak korban menggelapkan dan menjual muatan minyak goreng yang dibawa. Namun ajakan tersebut ditolak korban.

Penolakan itu diduga memicu niat jahat para pelaku. Mereka kemudian menyusun rencana pembunuhan dengan modus seolah-olah terjadi aksi perampokan.

“FG mengajak korban menjual muatan, tetapi korban menolak. Karena itu para pelaku menyusun skenario pembunuhan dengan modus perampokan,” jelas Muharman.

Rencana tersebut mulai dijalankan pada 2 Mei 2026. ZN dan AN disebut naik ke truk secara bertahap dengan alasan menumpang. ZN naik di wilayah Kandis Utara, sedangkan AN bergabung di sekitar ruas Tol Pekanbaru–Dumai.

Di tengah perjalanan, korban diduga diserang, kemudian diikat dan dililit lakban pada bagian wajah hingga tidak bisa bernapas. Hasil visum juga menemukan adanya tanda kekerasan akibat benda tumpul di tubuh korban.

FG diduga ikut mengikat dan melakban korban, sementara ZN dan AN membantu proses penganiayaan tersebut. Adapun tersangka AS berperan menyediakan lakban serta airsoft gun guna memperkuat skenario seolah terjadi perampokan.

Baca Juga  Viral Jalan Rusak Ditanami Pisang, PUPR Pekanbaru Turun Tangan

Setelah korban dipastikan meninggal, para pelaku berencana menjual muatan minyak goreng yang berada di dalam truk. Namun rencana itu gagal setelah pihak perusahaan ekspedisi curiga terhadap pergerakan GPS kendaraan.

Truk yang seharusnya menuju Lampung justru terdeteksi berputar-putar di wilayah Riau sebelum sinyal GPS mendadak hilang. Kecurigaan itu membuat pihak perusahaan melapor ke Polsek Payung Sekaki.

Saat polisi melakukan pengecekan di lokasi terakhir kendaraan terdeteksi, petugas menemukan jasad korban di dalam truk.

“Ketika petugas datang ke lokasi dan meminta keterangan saksi, ada yang melihat seseorang melarikan diri dari sekitar tempat kejadian,” kata Muharman.

Dalam proses penangkapan, dua dari tiga tersangka yang diamankan terpaksa ditembak polisi karena diduga melakukan perlawanan. Kini ketiganya ditahan dan dijerat pasal pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Sementara itu, polisi masih terus memburu AN yang diduga terlibat langsung dalam aksi pembunuhan sadis tersebut.