PEKANBARU – Irjen Pol. Herry Heryawan, Kapolda Riau, dikenal sebagai perwira tinggi Polri yang konsisten mengusung konsep green policing.
Konsep itu merupakan pendekatan kepolisian yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.
Sejak menjabat di Bumi Lancang Kuning, ia nyaris tak pernah absen menanam pohon dalam setiap agenda kunjungan dan kegiatan sosial, sebagai simbol komitmen menjaga keseimbangan alam.
Langkah tersebut sejalan dengan pandangannya bahwa persoalan keamanan tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan lingkungan hidup.
Di Riau, provinsi yang kerap menghadapi persoalan deforestasi, konflik lahan, dan kebakaran hutan, pendekatan ini menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Selain dikenal dengan gagasan green policing, Irjen Pol. Herry Heryawan yabg akrab disapa Herimen juga dikenal luas sebagai kawan karib akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung.
Keduanya kerap berdiskusi dalam forum-forum pemikiran kritis yang kemudian melahirkan konsep Tumbuh Institute, sebuah ruang gagasan yang mendorong kesadaran ekologis, keadilan sosial, dan pembangunan berbasis nalar kritis.
Profil
Hasil penelusuran matariau.com, Irjen Herimen lahir di Ambon pada 23 Februari 1972 dan merupakan lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1996.
Sejak awal pengabdiannya di Polri, ia dikenal sebagai perwira yang memiliki rekam jejak panjang dan konsisten di bidang reserse.
Karier kepolisiannya dimulai di Poltabes Semarang, sebelum kemudian mengemban berbagai penugasan strategis di wilayah Kepulauan Riau.
Pengalaman lapangan tersebut semakin diperkaya dengan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2001–2003, yang turut membentuk kapasitas intelektual dan kepemimpinannya.
Sejumlah jabatan penting pernah diembannya, mulai dari Kasat Reskrim Polresta Tanjung Pinang hingga posisi strategis di Polda Metro Jaya dan tingkat pusat, menandai konsistensinya dalam menangani kasus-kasus kriminal kompleks.
Nama Herimen mulai dikenal luas publik saat menjabat Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada 2011.
Di posisi tersebut, ia terlibat langsung dalam pengungkapan berbagai kasus besar yang menyita perhatian nasional, termasuk penangkapan tokoh preman Hercules dan John Kei.
Ia juga berperan dalam penanganan kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin di Kafe Olivier pada 2016.
Selain itu, saat menjabat Kapolresta Depok sekaligus Wakasatgas Narkoba, Herimen memimpin pengungkapan penyelundupan satu ton sabu di Pantai Anyer pada 2017.
Kasus ini tercatat sebagai salah satu pengungkapan narkotika terbesar dalam sejarah Polri dan mengantarkannya meraih kenaikan pangkat luar biasa (KPLB).
Tak hanya berpengalaman di bidang reserse dan narkotika, Irjen Herry Heryawan juga dikenal memiliki rekam jejak kuat dalam penanganan terorisme.
Ia pernah terlibat dalam operasi penangkapan teroris kelas kakap, seperti Noordin M. Top dan Abu Bakar Ba’asyir.
Pengalaman tersebut mengantarkannya dipercaya menjabat sebagai Direktur Penyidikan Densus 88 Antiteror Polri pada 2020.
Ia juga pernah tergabung dalam berbagai satuan tugas strategis, mulai dari Satgas Bom Polri, Satgas Nemangkawi di Papua, Satgas Migas Polri, hingga Satgas Narkoba Polri.
Pada 2024, Irjen Pol. Herry Heryawan meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian dari STIK Lemdiklat Polri.
Disertasinya berjudul “Upaya Pemolisian dalam Menghadapi Kompleksitas Persoalan di Papua: Penguatan Pelibatan Sosial dalam Pemerintahan, Pembangunan, dan Perdamaian.”
Karya ilmiah tersebut menegaskan pandangannya tentang pentingnya pendekatan sosial, dialog, dan humanisme dalam penegakan hukum, khususnya di wilayah dengan dinamika konflik multidimensi.
Sejak resmi menjabat sebagai Kapolda Riau pada 12 Maret 2025, Irjen Herry Heryawan kembali mencuri perhatian publik lewat gaya kepemimpinannya yang lugas, komunikatif, dan sarat simbol.
Dalam dialog bersama warga Pelalawan terkait persoalan lahan di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), ia melontarkan pernyataan yang kemudian viral, “Saya datang mewakili negara. Tapi kalau perlu, saya juga mewakili gajah.”
Pernyataan tersebut dinilai sebagai simbol komitmennya untuk menyeimbangkan kepentingan masyarakat dengan upaya pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa dilindungi.
Pendekatan dialogis, empatik, dan ekologis ini mencerminkan karakter kepemimpinan Irjen Pol. Herry Heryawan dalam menyikapi persoalan keamanan dan ketertiban secara komprehensif.
Kini, publik menantikan langkah-langkah konkret Polda Riau di bawah kepemimpinannya dalam menjaga stabilitas kamtibmas sekaligus keberlanjutan lingkungan di Bumi Lancang Kuning.





