PEKANBARU – Festival Cian Cui atau tradisi Perang Air khas Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau akan kembali digelar pada tahun 2026 dan resmi masuk dalam kalender nasional Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Event budaya yang akan berlangsung pada 17 hingga 22 Februari 2026 ini diproyeksikan menjadi magnet wisata sekaligus penggerak roda perekonomian masyarakat setempat.
Festival Cian Cui berakar dari tradisi masyarakat Tionghoa di Selatpanjang yang bermula dari permainan anak-anak saat perayaan Imlek.
Kala itu, anak-anak saling menyemprotkan air sebagai bentuk kegembiraan menyambut sanak keluarga perantau yang pulang kampung.
Seiring waktu, tradisi sederhana tersebut berkembang menjadi perang air massal yang digelar di jalan-jalan utama kota.
Kini, Festival Cian Cui telah menjelma menjadi agenda wisata tahunan yang selalu dinanti dan diminati wisatawan.
Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Komisi III, Elvira Nindia Fradista, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menyukseskan Festival Cian Cui 2026.
Ia menilai masuknya festival ini dalam agenda nasional KEN merupakan peluang besar bagi daerah.
“Festival Cian Cui sudah menjadi agenda nasional melalui KEN 2026. Ini adalah kesempatan besar bagi Kepulauan Meranti untuk menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM, perhotelan, dan sektor jasa,” ujar Elvira, Kamis (5/2/2026).
Menurutnya, setiap pelaksanaan Festival Cian Cui selalu memberikan dampak positif terhadap perputaran ekonomi daerah.
Berbagai sektor seperti kuliner, transportasi, penginapan, hingga jasa lainnya mengalami peningkatan signifikan selama event berlangsung.
“Perputaran ekonomi selalu terasa. Karena itu, dukungan masyarakat sangat penting agar pelaksanaan festival berjalan aman, tertib, dan sukses,” katanya.
Selain aspek ekonomi, Elvira juga menekankan pentingnya menjaga nilai toleransi antarumat beragama, mengingat pelaksanaan Festival Cian Cui tahun ini berdekatan dengan momentum bulan suci Ramadan.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk saling menghormati dan menjaga toleransi. Festival ini adalah budaya dan ruang silaturahmi yang harus tetap menghargai keberagaman,” tegasnya.
Elvira berharap Festival Cian Cui tidak hanya menjadi atraksi wisata unggulan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan masyarakat lintas agama dan budaya di Riau, khususnya di Kabupaten Kepulauan Meranti.
“Kepulauan Meranti dikenal dengan keberagaman dan toleransinya. Festival Cian Cui menjadi wujud nyata persatuan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.





